Taka No Me Perin

“Taka No Me”? Penggemar anime One Piece pasti sudah paham sejak dalam pikiran. Berarti Mata Elang. Julukan yang diberikan kepada Mihwak, salah satu Shicibukai.

Julukan Taka No Me melekat pada Dracule Mihwak. Sorot matanya memang seekor elang. Ia sosok yang masih misterius. Hingga Chapter 900+ chapter One Piece belum mengungkapkan asal-usulnya, apalagi seluruh kemampuannya. Sejauh ini Mihwak ditunjukan pada beberapa kisah; duel melawan Zoro di Baratie, pertemuan dengan Shanks, pertempuran Marine Ford, dan melatih Zoro. Yakinlah, kelak ia akan menjadi tokoh sentral dalam sebuah arc.

So, siapa Perin? Dia adalah penjaga gawang (kiper) Bianconeri baru. Juventus membeli Mattia Perin seharga 12 juta Euro dengan masa kontrak empat tahun dari Genoa. Transaksi dilakukan untuk mengisi keosongan kiper setelah kepergian Gianluigi Buffon ke PSG pada akhir musim 2017/2018 lalu. Perin bersama Wojciech Szczesny akan menjaga gawang Si Nyonya Tua. “Saya memiliki banyak antusiasme, saya datang ke sini dengan sangat rendah hati dan banyak belajar, tetapi berharap saya dapat memberikan bantuan kepada tim dan berkontribusi pada penyebabnya ketika dipanggil,” katanya di situs resmi Juventus seperti yang dilansir Fourfourtwo.com.

Liga Itali memang identik dengan taktik pertahanan yang kuat, Catenaccio. Kiper adalah krusial. Buffon adalah legenda Juventus. Sang Superman harus mundur demi tumbuhnya bibit-bibit baru: Taka No Me Perin. Tidak mustahil bagi Perin untuk melampai Buffon.

Well, ini adalah cocoklogi. Dracule Mihawk dengan Mattoa Perin. Secara peran mereka bagai langit dan bumi. Mihwak adalah petarung yang agrsif, sedangkan Perin adalah menjaga gawang yang menunggu bola dari lawan. Secara kemampuan pun mungkin demikian: Sejak kemunculannya Mihwak adalah karakter yang kuat. Pendekat Pedang Terhebat di Dunia. Namun kita dapat berharap lebih dari Perin, bahwa ia akan terus berkembang bersama Juventus. Di lihat dari penampilannya sebelum ke Allianz Arena, mantan kiper Genoa ini, telah menyelamatkan gawang dengan menakjubkan dan agresif.

Dari penampilan, mereka memiliki janggut dan kumis, dengan garis hitam di bawah mata yang menawan. Mereka adalah sama, kupikir. Tatapan yang tajam. Setajam elang. Tidak salah Juventus memboyongnya dari Genoa. Perin harusnya mampu melampaui Buffon. Ia memiliki kepercayaan diri dan konsistensi layaknya Mihwak. Tidak seperti Szczesny ketika di Arsenal. Haha. Namun keduanya adalah kiper yang dapat diandalkan bagi Juventus.

Di balik ketenangan Perin ada cengkraman kuat Sang Elang. Layaknya Mihwak yang pendiam namun tangguh. Welcome To Juventus Perin #FinoAllaFine.

Romantisme Vampir Harry Kane

Fakta bahwa Harry Kane memiliki aura vampir adalah benar, setidaknya bagiku. Kapten kesebelasan Inggris ini mengingatkanku dengan karakter vampir. Sebut saja, Alucard di gim MOBA Mobile Legend Bang-Bang dan anime Hellsings (1998), Staz dalam Blood Lad (2013), Edward Cullen dalam Twilight Saga (2012), dan Lestat di Interview With The Vampire (1994). Saat ini vampir diasosiakan dengan kelelawar penghisap darah.

Tentang Count Dracula, seorang tokoh fiksi dari Dracula (1897) karya pengarang Irlandia, Bram Stoker yang banyak menciptakan inspirasi karakter-karakter fiksi dalam gim, film, dan animasi. Dracula terinspirasi dari Vlad Tepes atau Vlad III Dracul, pemimpin Wallachia (Rumania) pada abad ke-15.

Julukan “Tepes”, penyula, diberikan karena kegemarannya menghukum orang dengan disula. Drakula berarti anak sang naga. Ayahnya Vlad II Dracul bergabung dengan Ordo Naga. Dracul dalam Latin berarti dragon yang berawal dari bahasa bahasa  Yunani, “dracon“. Dalam bahasa Rumania “drac” berarti iblis.

Dracula memang terkenal kekejamannya: membantai prajurit Kesultanan Utsmaniyah di Tirgoviste, membakar pemuda Turki di Wallachia, dan menyula pedagang Turki. Cerita Dracula doyan darah manusia hanya adalah fiksi. Ia sama sekali tidak meminum darah, layaknya vampir di film-film. Mungkin mitos vampir dracula menyukai darah manusia berkaitan dengan Vlad Tepes yang sudah banyak membunuh manusia.

Dalam proses kreatif saat ini, sosok Vlad III Dracul dapat ditemui di serial anime Fate Apocrypha (2017). Seorang servant dari Fraksi Hitam (Keluarga Yggdmillennia): Lancer Hitam. Penampakan keduanya pun sama:rambut panjang, bentuk wajah tajam sangar, senyuman bengis, dan pakaian raja yang elegan.

Sebagai seorang lancer, Vlad III Dracul bersenjata tombak. Mirip dengan Vlad Tepes yang suka menyula. Menarik, bahwa Harta Mulia-nya adalah transform menjadi vampir yang kebal.

Ya, keduanya adalah orang yang sama. Keduanya berusaha keras melindungi apa yang mereka punya. Melindungi Romania dari Turki Utsmani dan merebut kembali Holy Grail. Fate Apocrypha merupakan sekuel dari series Fate sebelumnya. Bercerita tentang perang memperebutkan Holy Grail yang mampu mengabulkan permintaan apapun.

Lalu apa hubungan semua dengan Harry Kane? Ini bukan tentang Kane yang haus darah. Maksudku, karisma Harry Kane miriplah dengan karakter di atas. Mata yang sendu dengan garis hitam di bawahnya. Tatapan yang dingin dan kalem dengan tatapan tajam. Vampirable!

Saatku mengamati dan memikirkan Kane, karakter-karakter fiksi tersebut muncul. Entahlah, diriku bingung dengan keadaan ini. Aku harus realistis bahwa Kapten Timnas Inggris tersebut tidak ada hubungan langsung dengan karakter di atas. Perkara ini adalah hasil imajinasi dari romantismeku. Aku mengamati Edward Cullen, Staz, Count Dracula, Lancer Hitam, Alucrad, Listet, dan kelelawar adalah Harry Kane. Mereka mempertahankan apa yang mereka miliki.

Saat ini Kane berjuang dalam World Cup 2018 di Rusia. Inggris berhasil mencapai semi final setelah sebelumnya mengalahkan Swedia 2-0. Sekarang adalah saatnya membawa pulang piala itu sejak 1966. Mempertahankan sepak bola di tempat asalnya. Bukankah itu tugasmu sebagai kapten dan vampir?

“ITS COMING HOME!,” Its everywhere. Haha.

 

Maskulinitas dan Manusiawi

Prancis memenangkan laga melawan Uruguay dalam perempatan final World Cup 2018 di Stadion Nizhy Novgorod, Jumat (6/7) malam WIB. Skor 2-0 membawa Prancis ke semifinal dan otomatis memulangkan Uruguay.

Uruguay tidak diperkuat Edinson Cavani akibat cidera betis yang didapat ketika melawan Portugal, memaksanya menunggu di bangku cadangan. Lini serang menjadi Uruguay tidak matang.

Pada menit ke-35, serangan Uruguay berhasil dihalau kiper Prancis Hugo Lloris. Umpan Luis Suarez kepada Matias Vecino menghasilkan tendangan ke gawang, namun dapat diantisipasi dengan mudah.

Di menit ke-40, Antoine Griezman berhasil memberikan umpan melalui tendangan bebas yang berhasil disambut oleh kepala Raphael Varane. Kolaborasi keduanya membuat gawang Fernando Muslera bobol. Prancis unggul.

Babak kedua, Griezman berhasil mencetak gol di menit ke-61. Tendangan bebas melesat keras. Muslera tidak mampu menahannya, bola memantul ke atas menuju gawang. Prancis berhasil menjaga jarak lebih jauh dari Uruguay.

Ketegangan terjadi pada menit 67. Pemain pengganti Uruguay, Christian Rodriguez mencoba menghambat gerakan Kyle Mbappe. Namun direspon overacting oleh Mbappe. Ia terjatuh dan terlihat kesakitan. Sangat menggelikan karena Rodriguez hanya menyentuhnya pelan. Keduanya dihukum kartu kuning.

Di menit ke-88, momen ketika Jose Gimenez menahan air mata menarik perhatianku. Pemain yang menemati bek tengah tersebut menangis di penghujung laga. Tertinggal 2 gol mungkin membuat pemain Atletico Madrid ini frustasi. Rasa kecewa terhadap dirinya sendiri ditunjukan dengan ekspresi menahan tangis di menit-menit akhir.

Terlebih ketika Uruguay melakukan pelanggaran dan berhadiah tendangan bebas bagi Prancis. Gimenez tak kuasa menahan tangis ketika menjadi pagar betis. Setelah itu, beberapa pemain Prancis mendatanginya untuk menyemangatinya.

Aksi tersebut mendapat pro dan kontra. Ada yang memberi dukungan ada juga yang mengkritik. Dalam postingan instagramnya (@josemariagimenez) pada 6 Juli, ia mengungkapkan rasa terimakasihnya:

“Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada semua orang di Uruguay yang selalu mempercayai kami dan terima kasih juga untuk seluruh rekan saya yang telah mengajak saya untuk bermimpi bersama. Kami akan kembali menjadi lebih baik… AYO URUGUAY.” Banyak dukungan yang didapatnya, khususnya dari fans Uruguay.

Namun demikian, aksi tangis tersebut juga mendapat kritik. Dilansir dari Gilabola.com, Gary Naville mengecamnya, komentator ITV memandang tindakan tersebut memalukan. “Apakah dia menangis? Apa yang dia tangisi? Ada apa dengannya? Masih ada lima menit lagi,” kata Neville.

Apakah laki-laki tidak boleh menangis? Di tengah lapangan ketika dalam pertandingan? Menurut jurnal Psychology of Men & Masculinity (2012) yang saya kutip dari Yomamen.com, menyebutkan bahwa atlit yang memiliki kepercayaan diri tinggi justru tidak canggung untuk menunjukan ekspresinya lewat tangisan di lapangan.

Mungkin Neville menganggap laki-laki haruslah tidak menangis. Geminez mengangis karena kehilangan apa yang ia perjuangkan. Pemain adalah tulang punggung timnya. Membawa tanggungan terhadap klub dan negaranya adalah beban yang berat. Perasaan khawatir karena mengecewakan orang lain bisa dianggap “dosa” oleh diri sendiri. Menangis karena harapan Uruguay untuk membawa piala World Cup pupus.

Dear Naville, menangis bukanlah hal yang memalukan. Itu menunjukkan perasaan. Manusiawi. Momen Christiano Ronaldo menangis ketika final Piala Eropa 2004 melawan Yunani di final. Portugas kalah 0-1. Kemudian di Piala Eropa di mana CR7 tidak dapat melanjutkan pertandingan melawan Prancis.

Juga mereka yang memangis karena gagal membuat timnya juara: Lionel Messi, Argentina gagal juara Copa Amerika 2016, Andrea Pirlo ketika Juventus gagal menjuarai Liga Champions 2015, John Terry yang gagal mengeksekusi penalti dalam laga Final Liga Champions 2007/2008 ,dan lainnya.

Laki-laki yang menangis bukan menunjukkan kelemahan mereka. Malah memanusiakan laki-laki itu sendiri. Doktrin ribuan tahun yang mengharuskan laki-laki untuk jantan dan kuat memberi dampak buruk bagi laki-laki. Stereotip laki-laki yang menangis adalah pengecut dan lemah memberi dampak buruk. Laki-laki yang emosional mereka adalah korban. Manusia dilahirkan tidak berdasar keinginannya sendiri. Banyak kondisi yang mempengaruhi perkembangan mentalnya. Pemaksaan menjadi maskulin akan berdampak buruk pada orang yang tidak menghendakinya.

Bahkan ketika kamu (Neville) mencium Paul Scholes dalam Liga Primer Inggris 2010 silam sangatlah manusiawi tanpa menodai maskulinitasmu. Meskipun berkelah, “Lawan Manchester City dan Liverpool, saya tidak bisa mengontrol emosi saya,” kata Neville, diberitakan Givemesport.

Ketangguhan Srigala

Kebanyakan dari kita mungklin sudah mengetahui betapa tangguhnya keluarga Stark dalam serial Game of Thrones. Keluarga ini memiliki lambang srigala (Direwolf) berwarna abu-abu. Adapula Stark lain, diantaranya adalah Coyote Starrk dalam manga Bleach. Ia adalah rank nomor 1 (Primera Espada) Espada yang dipimpin oleh Sosuke Aizen. Dalam penggunaan kemampuannya Coyote mampu memanggil segerombolan srigala.  Selain itu, siapa yang tidak mengenal Tony Stark? Karakter utama dalam Iron Man ini jelas sudah banyak yang mengetahuinya!

Hmmm. Menjadi pertanyaan, mengapa karakter yang menyandang Stark tangguh dan kuat? Tunggu dulu. Kenapa tulisan ini hanya berdasar pada karakter fiksi? Heeeee.

Mengenai ketangguhan karakter yang menyandang Stark memang selalu kuat. Nama yang berwibawa disisipkan dalam karakter. Entah kenapa mereka dibekali ketegasan, ketegaran, keberanian, dan kekuatan. Walaupun dalam cerita fiksi pembuat karakter bebas memainkan sifat, perilaku, dan kemampuan mereka, Stark selalu diasosiasikan kuat. Rumpun bahasa Germanic mengartikan Stark sebagai starke (German) dan sterke (Belanda) yang berarti kuat.

Direwolf adalah hewan predator yang mampu bertahan di musim dingin. Mereka memiliki bulu agar tetap hangat. House of Stark dan Coyote Stark terinspirasi dari srigala. “Winter is Coming” di Winterwell membutuhkan mLogo House_Starkantel layaknya srigala agar menjaga suhu tubuhnya tetap hangat. Banyak cobaan yang harus ditempuh oleh keluarga Stark, khususnya melawan kelicikan Cersei Lanister dan sekutunya. Penderitaan banyak dihadapi oleh keluarga Stark: pemenggalan Eddard, Red Wedding, hingga terbunuhnya Rickon. Perjalanan waktu yang mengerikan membuat anak-anak Stark yang tersisa berkembang. Sansa yang mampu berpola pikir layaknya Cersei, Brandon menjadi cenayang, dam Arya adalah ksatria perempuan hebat yang melewati batas norma sosial yang umum pada zaman itu.

Coyote StarrkCoyote pun demikian kuatnya. Pakaiannya dibuat layaknya ia berasal dari tempat yang dingin: mantel bulu di beberapa bagian ketika Ressuraction. Namun belum cukup tidak mengalahkan Shunsui, tidak ada pilihan lain selain menggabungkan kekuatannya dengan rekan Arrancar-nya, yaitu Lilynite. Penggabungan ini disebut Love and Rose. Hasil penggabungan itu men-summon segerombolan srigala yang mampu mebgeluarkan cero yang menyakitkan. Ketangguhan terbesar Coyote adalah ia mampu melawan kesepiaanya. Diceritakan, saking kuatnya dia, jika ada hollows lemah yang berada di dekatnya akan lenyap tanpa melakukan apapun. Hingga akhirnya dia bertemu Lilynite dan merasa memiliki teman.

Bagaimana dengan Tony Stark? Ia kuat. Namun, tidak ada hubungannya dengan direwwolf. Nama Stark di Amerika cukup banyak. Iron Man aka Tony Stark yang berlatar belakang di Amerika Serikat adalah lumrah memiliki nama Stark.

Cerita Dari Seorang Yang Diracuni Nyi Blorong

Sabtu, 19 Januari lalu saya mengunjungi keluarga di Kebumen. Sebenarnya saya enggan ke sana, tapi demi beberapa tujuan (membawakan buku dan pakaian untuk disumbangkan), mau tidak mau mengharuskan menginap di tempat bibi.

Malam harinya pada, saya bertengger di teras, sekedar mendapatkan udara sejuk. Tiba-tiba seorang pria telanjang dada mendatangiku. Saya tidak mengenalnya, namun katanya ia mengenalku ketika kecil. “Wis gede, ganteng,” katanya sambil menjabat tanganku. Tampangnya agak menyeramkan, dengan kumis tebal, dan bekas tindikan di kedua telingannya.

Sebenarnya saya ketika itu sedang tidak ingin bicara kepadanya, sebab sedang asyik-asyiknya menikmati lagu All Night dari Astro. Hmm, saya terpaksa mencopot earphone. Ia berbicara dengan bahasa Indonesia dengan logat ngapak. LOL. Sama saja tidak kumengerti secara gamblang. Kira-kira begini:

“Saya tidak pernah makan buah-buah yang rasanya enak. Semuanya diracuni.”

Sumpah, saya bingung apa maksud dari semua ini. Perkiraanku pernyataan itu dimaksudkan secara harafiah.

“Semuanya: buah, ayam, ikan, bahkan laut sudah diracuni Nyi Blorong. Diracuni dengan keburukan dan membuat saya jauh dari Allah. Blorong benci orang Islam.”

“Bagaimana caranya?” tanyaku penasaran.

“Kalau malam hari suruhan Nyi Blorong menyuntikkan sesuatu pada buah yang akan matang,” ungkapnya.

Ia mengakui bahwa sejak kelas 5 SD rajin mengikuti band-band musik di kampungnya. Hingga pada akhirnya ia menjadi vokalis di band-nya. Mungkin meniru gaya keren orang-orang edgy, ia memutuskan untuk menindik telinganya. Tindakan ini juga yang membuatnya menyesal sampai sekarang, mungkin seumur hidup.

“Tidak ada yang mencegahku! Aku dibiarkan saja! Sekarang aku rusak! Malu!”

“Bagaimana mau salat jika ada bekas tindikan?!” lanjutnya menyedih.

Sekitar 30 menit ia berbicara, hal yang sama terus diucapkannya. Perihal Nyi Blorong yang meracuni makanan dan menyalahkannya. Orang yang  menyebalkan!

SIALAN!

 

Setelah Satu Serangan, Tidak Berguna

Judul ini merujuk pada karakter anime/manga Izuku Midoriya (My Hero Academia), Reg (Made In The Abyss), dan Megumen (Konosuba). Setelah menggunakan satu jurus, mereka berisiko tidak dapat menggunakan jurus lainnya. Haha.

Self-Damage Permanent and Explosion

Izuku Midoriya bisa dipanggil Deku, paling rentan melukai diri sendiri setelah menggunakan jurusnya. Wajar saja, bagi seorang yang dilahirkan tanpa Quirk ia harus terbiasa dengan One For All yang diwariskan oleh All Might. Sekarang Deku menjadi pemegang yang ke-9.

Deku

Sayangnya One For All berbeda dengan Quick lainnya. Bukan Quirk yang mengubah atau menghasilkan sesuatu sehingga banyak risiko kehancuran pada penggunanya. Quirk ini meningkatkan kecepatan dan otot fisik. Itulah mengapa, setelah penggunaan Delawer Smash yang memaksimumkan gerakan jari untuk menghasillkan tekanan angin, jarinya patah.

Penggunaan Full Cowl menghacurkan tulang. Setelah berlatih denan Gran Torino, Deku berhasil sedikit mengontrol Quirk-nya, Peningkatan jurus ini sudah mencapai 20%, di mana sebelumnya hanya maksima 8% yang cukup untuk menghancurkan beberapa tulangnya. Usahanya berlatih membuahkan hasil ketika jurus ini menambah kecepatan dan mobilitasnya ketika bertarung. Jurus ini pula, ketika dimaksimumkan penggunaan 20%, akan menyebabkan rasa sakit bagaikan tulangnya diambang keretakan.

Semua jurusnya memberikan dampak merusak terhadap tubuh Deku sendiri. Diantara semua itu, One For All 100% adalah yang paling dasyat. Damage ini merusak pada seluruh tubuhnya. Ketika melawan Todoroki, tangan kanannya harus dioperasi. Ketika melawan Muscular, meninggalkan bekas luka sepanang tangan kanannya.

Dari risiko-risiko kehancuran tubuhnya ini, Deku akan kesulitan dan mungkin kalah dalam pertarungan satu lawan satu. Makanya, kerja sama tim adalah penting.

Apapaun itu… Hmm, namanya juga tokoh utama. Memang diciptakan dengan banyak kekurangan. Tentu saja perjuangan adalah hal menarik yang menyebabkan penontonnya tetap mengikutinya. Walaupun Deku mengalami kesulitan dengan adaptasi Quirk barunya, ia tetap berusaha. MENJADI PAHLAWAN PROFESIONAL.

Kemudian ada Reg yang kumasukan dalam daftar ini. Sebagai roboh yang diciptakan bertubuh kecil lagi pemalu dan naif. Ia pun kadang kecewa dengan ototnya yang mau tumbuh. Walaupun robot, Reg memiliki ciri manusia pada umumnya. Rupanya ia mampu ereksi, LOL.

Beruntungnya sebagai bentuk artifisial, ia tidak akan terkena Kutukan Abyss. Sebagai pelindung Riko, karakternya serba kekurangan. Kupikir ia bukan tipe karakter yang cocok sebagai pelindung pada umumnya. Ia sering menangis dan lemah. SANGAT MANUSIAWI.

reg

OKE. Kuakui, damage yang dihasilkan oleh Incinerator sangat besar. Besaran lasernya dapat digunakan sesuai keinginan Reg, jurus ini mampu membakar semua itu: berhamburan. LOL, sayangnya setelah menggunakan jurus ini selama 10 menit, Reg akan pingsan dua jam.

Selanjutnya ada si pengebom, Megumin. Hmm, Konosuba, alih-alih menjadi anime adventure, malah komedi. NJIR. Tokoh utama, dan pendampingnya, semuanya konyol. Dan Megumin adalah yang paling parah. Setelah mengelurkan ledakan dengan jumlah energi yang sangat tinggi dan padat, ia tidak akan berguna. Mengumpat dan men-support lainnya dengan doa.

megumin

Penyihir gagal. Alih-alih belajar kemampuan sihir baru, ia tidak mau. Parahnya, wkwkwk, Megumin hanya punya satu jurus: Explosion Magic. Ia sangat terobsesi dengan ledakan. Dengan waktu cast yang singkat, ia mengerahkan semua energi dalam satu kemampuan: BOOM. Meledak.

Ya kali, kalo jurusnya berhasil mengalahkan musuh. Lah kalo masih bertahan? Megumin useless lah. Kontrol aliran mana yang buruk, menyebabkan ia tak berdaya setelah penggunaan sihir berenergi besar. Pada akhirnya, ia akan tergantung pada orang lain. GOBLOKKK.

Alasan Dewa Eros (Harus) Dipersalahkan dan Tips Bagi Jomblo

Saya yakin tidak salah baca nama bulan masehi di kalender 2017 ini. Ini bulan Mei dan bukan Februari, setahu saya kebanyakan orang akan kemakan eh kejatuhan hati eh jatuh sayang pada bulan Februari. Mengapa Februari? Saya yakin karena seremonialnya lebih berkesan ketimbang bulan lain. Tapi, nyatanya Dewa Eros datang setiap waktu dan seenak tahu bulat yang digoreng hangat di mobil.

Tidak lama berselang, ternyata dan pasti benih-benih kegelian dari Dewa Eros bakalan muncul bahkan menjamur di sekretariat bersama (sekber) ini. Begitulah atau mungkin selalu klise. Saya tidak begitu heran sebenarnya karena ini naluri yang jare teman homo saya alamiah. (alamiah kampret po).

Seperti kebanyakan organisasi yang pada akhirnya mengantarkanmu menemukan musuh (selimut) eh barangkali biasa disebut jodoh. Bahasanya sedikit saru tapi bagi saya biasa wae karena baik saya atau teman saya pernah mengalami indahnya jatuh ketiban Dewa Eros di organisasi. Tapi, kadang Dewa Eros itu datang enggak disangka-sangka waktunya sehingga membuat kebanyakan jomblo harus (ekstra) menutup telinga bahkan mata.

Sebenarnya ini masalah bersama, kenapa pula Dewa Eros mendatangkan petaka bagi para jomblo ini. Bukannya datang disaat yang tepat, tapi malah makin menggerayangi mimpi para jomblo yang (selalu) buruk. Sebenarnya tidak ada salahnya Dewa Eros menaburkan benih-benih menyebalkan itu, tapi mbokya tahu tempat dan waktu sehingga tidak membuat hati para jomblo semakin menjomblo (lagi). Dari sederet kisah pilu karena ulah Dewa Eros, saya rasa yang paling menyebalkan adalah di organisasi. Bagaimana ndak menyebalkan, jika matamu ngeliat sesama temanmu mbojo sementara dirimu (yang) jomblo harus gigit permen eh jari ding.

Sebagai bentuk protes kepada Dewa Eros akhirnya saya memutuskan membuat beberapa daftar menu yang bisa dilakukan para jomblo ini kemudian hari di sekbernya. Seharusnya saya buat susunan konsideran rapi supaya rancangan peraturan tandingan para jomblo ini bisa disetujui dan dilakukan secara masif. Ehe..tapi apalah daya saya yang bisanya Cuma nyinyir nulis tak karuan dan belum sempat mengumpulkan Dewan Perwakilan Rakyat Jomblo (DPRJ) untuk rapat. Akhirnya lahirlah ide busuk ini dari otak saya.

Begitulah derita para jomblo memang harus di narasikan dengan elegan dan santun untuk menohok para pelaku tadi. Sehingga saya akan membagikan tips ini biar para jomblo kuat melihat temannya saling makan teman, eh menyayangi ding.

Dewa
Sumber: kumpulanmisteri.com

Hal pertama, yang harus dilakukan jomblo adalah olahraga lari. Saya sarankan olahraga lari adalah supaya saat ada temanmu yang main mata, main hati atau main apapun di sekber kamu bisa segera lari ke toko asesoris hape terdekat. Kamu mau tahu apa gunanya? Sini saya beritahu. Ya tentu saja kamu perlu beli kuota berlebih dan headset untuk menutup telingamu. Kamu perlu streamingan nonton pilem terbaru di youtube sambil pura-pura budhek (tidak dengar). Jika cara pertama gagal karena ternyata matamu masih bisa ngeliat temanmu berduaan, ada baiknya kamu ikuti cara kedua saya.

Cara kedua, masih sama kamu harus olahraga lari. Cuma dengan tujuan yang berbeda, kamu harus seret beberapa ekor eh orang temanmu yang pinter nyanyi sambil main gitar. Kamu bisa bikin gaduh sekber dengan nyanyi bareng layaknya band-band papan bawah eh atas ding. Nah, kalau keganggu dijamin mereka bakalan menyingkir. Atau kalau masih ngeyel sekalian kamu ajakin grub paduan suara kampus untuk latihan bareng di sekbermu. Keren kan??

Kalau Dewa Eros ternyata masih juga numbuhin benih-benih kesyahduan barangkali kamu perlu pakai cara ketiga. Cara ini sedikit pekok, tapi mungkin bisa membantumu dapat trek record sebagai orang paling gendeng (gila).

Cara ketiga, cara ini biasanya sih jarang dilakukan oleh mahasiswa macam saya tapi kamu boleh coba deh kalo ada duit ehe. Caranya mudah, kamu tinggal pergi ke warung trus beli makanan yang bisa bikin perut mules setengah dewa. Nggak usah tanggung-tanggung ya, kamu bisa borong semuanya. Nanti baliklah ke sekber, makan deh tuh makanan yang pasti bakal mengantarmu ke pintu toilet. Oh iya, akan lebih baik jika kamu ajak sekalian dua karibmu yang mbojo itu makan. Dijamin deh, mereka bakalan batal membuat matamu polusi. Dan bisa jadi kamu bakal makin kreatif karena keluar masuk toilet itu membuat ide-ide gilamu muncrat keluar semua. Keren kan? Ayo cobalah….

Kalau masih kurang ada cara keempat nih yang lebih ramah perut, kamu bisa memakai jurus elegan yang menumbuhkan pandangan positif banyak orang. Kamu perlu ambil beberapa buku yang harus kamu baca sambil nutupin muka. Atau kalau masih kebayang juga, bisa deh kamu baca keras-keras banget. Kalau suaramu masih kurang keras, bisa deh kamu pinjem dulu mikroponnya masjid. Supaya apa? Supaya banyak orang tahu kalo kamu orangnya doyan baca dan bisa mencerahkan banyak orang. Ingat ya banyak orang dan nggak Cuma temenmu yang mbojo itu. Saya yakin itu sedikit menghiburmu untuk melupakan kejombloanmu.

Namun jika ternyata Tuhan masih mengizinkan kamu ngeliat temenmu mbojo juga, saya sarankan ikuti petunjuk selanjutnya.

Jika keempat ide itu masih juga gagal membawa Dewa Eros keluar dari sekbermu kamu bisa lanjut ke level berikutnya. Ini saya namakan levelnya sufi, mereka yang masuk level ini sudah pasti jurusan filsafat eh atau klir baca filsafat atau orang macam apalah. Ehe….

Cara kelima, seperti yang sudah saya bilang cara ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang derajat sabarnya tinggi dan tentunya sufi sekali. Kamu bisa tetap berdiam diri dalam sekber dengan melihat Dewa Eros menabur benih pada dua sosok biadab di sekber. Diam ini berarti kamu harus pura-pura tidak menjadi sesuatu yang disebut manusia. Di level ini saya yakin nggak banyak orang bisa bertahan. Nah gimana mau tahan kalau polusi matamu macam debu jalanan yang tiada henti menuju matamu karena diterjang badai.

Dan jika matamu makin eneg (mual) untuk melihat ada baiknya kamu baca tips terakhir saya ini.

Caranya sih cukup gampang gaes….cara kelima, kamu tinggal menirukan persis perbuatan saya ini. Ya gininih kamu tinggal nulis unek-unek kamu yang saya kira semakin memuakkan itu dalam secarik kertas. Atau kalau kamu udah nggak punya kertas karena jarang kuliah ya bisa deh diketik kayak saya nanti dikirim deh ke redaksi Manifesto Kadal. Oiya, jangan Cuma dikirim ya minta diterbitkan sekalian, jadi temenmu yang mbojo  tadi bisa baca dan nggak bikin polusi matamu lagi.

Yang akhir dari yang paling akhir, ikhlaskan dirimu dan minta maaplah sama Dewa Eros kemudian bertanyalah. “Apakah kerjaanmu hanya memberi kasih dan cinta pada teman-temanku? Lalu aku gimana?”…

Ehe, semoga dapat jawaban……………………..

N. Naharin, sedang belajar nulis, suka ngalas, pecandu musik dan sedikit gila.

Membaca untuk Keabadian

Buku adalah jendela dunia. Bukalah jendela itu dengan membaca. Membaca, terutama buku cetak, membimbing kita pada suatu petualangan yang mengasyikkan. Tidak hanya pengetahuan yang diperoleh, juga memperbaiki cara pandang kita dalam melihat peristiwa.

Sayangnya, membaca belum menjadi kesadaran di Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih menggunakan televisi sebagai media menjaring informasi. Itu pun kalau tidak−dan kebanyakan memang demikian−televisi dianggap sebagai hiburan semata dengan acara-acaranya seperti sinetron dan gosip selebriti.

Menonton televisi kini telah menjadi kegiatan utama. Bahkan kegiatan ini justru dipertahankan di lingkungan keluarga. Kebiasaan menonton orang tua akan menular ke anak-anak sedari kecil. Dan ini menyebabkan waktu untuk menonton televisi lebih lama.

Dimensi Magz
Budayakan Membaca. Foto dari Instagram @LPM_Dimensi

Dilansir dari Republika Online Mobile, data BPS mempersembahkan, rata-rata anak-anak Indonesia menghabiskan 300 menit per hari untuk menonton televisi. Jika dibandingkan di Kanada, mereka cuma memiliki waktu 60 menit untuk televisi. Perilaku menonton televisi ini melemahkan minat baca. Terlebih jika lepas dari pengawasan orang tua sehingga tak memperhatikan konten acara yang ditonton.

Jika hal itu memang benar adanya, maka data statistik UNESCO pada 2012 tidak salah. UNESCO menyebutkan indeks minat baca Indonesia hanya 0,001. Artinya, hanya satu orang saja yang mempunyai minat baca setiap 1000 penduduk. Padahal infrastruktur literasi di Indonesia, seperti perpustakaan, cukup memadai dan hampir merata. Indonesia berada di peringkat 36 berdasarkan laporan Most Literate Nations in the World, yang diterbitkan Central Connecticut State University, Maret 2016. Jauh di atas Belanda (53) dan Singapura (56). Akan tetapi, masih dalam laporan yang sama, tingkat kemampuan membaca dan menulis masyarakat Indonesia menduduki urutan ke-60 dari total 61 negara. Indonesia hanya unggul dari Bostwana yang menjadi juru kunci. Sementara peringkat atas diduduki negara-negara yang dikenal bagus dalam literasi, seperti Finlandia, Norwegia dan Islandia. Bisa disimpulkan, Indonesia baik dalam mengadakan proyek pembangunan perpustakan, namun masih belum difungsikan secara optimal.

Tentu data-data di atas bukanlah sekadar angka kosong. Sejak dahulu, Indonesia memang mengalami masalah dengan literasi. Maka, sungguh lucu dan tidak layak dibayangkan kalau kita pernah dengar DPR berwacana akan membangun perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara yang berlokasi di Gedung DPR RI. Sebab, perpustakaan DPR yang ada sekarang saja sepi kunjungan dari kalangan anggota dewan sendiri. Seharusnya petinggi negara dan pemangku kepentingan lain memikirkan dulu bagaimana caranya agar rakyat Indonesia melek baca.

Menumbuhkan Minat Baca

Menumbuhkan minat baca sesungguhnya gampang-gampang susah. Hal itu perlu sosialisasi bahwa membaca harus dijadikan kegiatan. Keluarga menjadi agen utama untuk mengenalkan buku dan membaca. Pertama-tama bisa dengan cara mendongengkan anak dari buku cerita. Si anak akan penasaran dan timbul niatan untuk belajar membaca. Setelah bisa membaca, ia pasti akan mempraktikkan dengan mencari buku-buku cerita untuk dibaca sendiri. Dengan demikian membaca menjadi sebuah kebiasaan yang ditanam sejak dini. Namun, tentu saja ini tergantung pada orang tua apakah mereka juga memiliki kesadaran membaca. Sebab yang paling penting adalah munculnya kesadaran terlebih dahulu.

Selain itu, menjadikan membaca dan menulis sebagai kegiatan wajib yang dilakukan di sekolah. Minimal anak disuruh membaca satu buah buku untuk kemudian diresensi. Untuk merealisasikannya, perlu bimbingan dari guru yang kompeten dan sarana penunjang berupa perpustakaan di sekolah.

Rendahnya minat membaca buku masyarakat kita tidak sepenuhnya merupakan kesalahan mereka. Terkadang metode yang kita gunakan untuk merayu orang agar membaca buku masih kurang tepat. Contoh saja, orang tidak akan tertarik jika kita hanya memberitahu kepadanya buku apa yang akan ia baca, tanpa kita jelaskan mengapa harus baca buku itu. Sering kali metode ‘apa’ masih diterapkan oleh siapapun. Metode ‘apa’ cenderung membikin orang tertutup pikirannya meskipun ia sudah melakukan suatu  tindakan. Cobalah metode ‘apa’ diganti jadi ‘mengapa’. Dengan mengungkapkan alasannya, orang pasti merasa diberi pengertian sebelum bertindak, (dalam kasus ini tentu saja membaca buku). Hal  ini  akan membuat pikiran orang berjalan.

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, mengatakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Saya kira tidak hanya menulis yang dianggap sebagai kerja untuk keabadian. Membaca juga pantas disebut bekerja untuk keabadian, terutama keabadian bangsanya lantaran dapat menghargai ilmu pengetahuan dengan membaca. Selamat Harbuknas! Ayo membaca!

Ahmad Yasin, mencoba menjadi Redpel yang hakiki.

Lelucon “Kampus Merah, Kampus Pergerakan”

Pada awal kepengurusan organisasi mahasiswa (Ormawa) saat ini, merupakan momen yang tepat untuk menelaah kembali wacana dan arah pergerakan mahasiswa. Tak terkecuali Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultus Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (BEM FIS UNY). Seperti yang tertuang pada visi BEM FIS UNY 2017, “persatuan guna mewujudkan FIS  bersatu dalam pergerakan dalam menghadapi tantangan abad 21”. BEM FIS UNY terlalu jemawa menyebut istilah “pergerakan”. Yang dikhawatirkan, mereka berkata dengan waton nyeplos tanpa ada suatu konsep serta arah gerakan. Akankah sebuah visi tersebut hanya berkutat pada sebuah wacana atau yang lebih parah tanpa ada aksi nyata sama sekali? Jika hal tersebut hanya dijadikan pajangan atau sebagai wangon-wangonan, jelas akan menjadi penyakit dalam BEM FIS UNY. Menjadi pertanyaan besar jika sebagian mahasiswa UNY menasbihkan FIS menjadi kampus pergerakan, sedangkan pergerakan apa yang dimaksud belum jelas arahnya.

FIS sebagai kampus pergerakan harusnya mampu menjadi obat dahaga pergerakan di UNY. Klaim sebagai kampus pergeralan bukan hal baru bagi mahasiswa FIS. Entah dari mana klaim tersebut berasal, namun klaim tersebut bukan tanpa tedeng aling-aling disematkan di kampus merah tersebut. Hal itu menjadikan komoditi yang menggiurkan siapa saja yang ingin menjadi orang nomer satu saat pemilwa. Pengurus baru sibuk menyusun proker serta wacana, wacana yang akan terejawantahkan atau hanya untuk mengibuli.

Berkaca dari BEM FIS UNY 2016, seharusnya klaim sebagai kampus pergerakan segera ditinggalkan.   Hanya beberapa kali turun aksi serta tidak sungguh-sungguh mengadvokasi mahasiswa FIS. Seingat saya hanya tiga kali melakukan aksi dalam satu periode. BEM sebagai garda terdepan organisasi struktural saya rasa gagal dalam mengemban kata “pergerakan” di dalamnya. Tiga aksi tersebut pun BEM terkesan lunak dan bersikap moderat, bahkan seolah menjauhi hakikatnya sebagai Badan Eksekutif (milik) Mahasiswa.

Aksi pertama dilakukan pada masa awal kepengurusan. BEM menempatkan posisi sebagai media penghubung antara mahasiswa dengan birokrat kampus. Masalah kajian? Patut ditanyakan. Kedua, saat parade ormawa dalam pembukaan ospek. Ini pun, apakah bisa dibilang sebagai sebuah aksi? Kembali lagi sebuah pertanyaan muncul, di mana letak kerja BEM FIS UNY sebagai motor pergerakan secara struktural? Lantas yang terakhir, tetap dalam acara Ospek yang dihelat pada hari ketiga atau hari pertama Ospek fakultas. Sebuah aliansi yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa FIS (AMF) menggelar aksi untuk menyambut teman-teman mahasiswa baru di dekat Taman Pancasila FIS UNY. Dalam aksi ini, BEM sebagai jembatan penghubung antara mahasiswa (biasa) dengan panitia Ospek yang superior mengemban tugas dalam pelaksanaan Ospek fakultas. Hanya sebatas itu saja. Lalu kemana BEM FIS UNY ketika isu represifitas terhadap mahasiswa UNY, menanggapi isu pemilihan rektor baru, perubahan Undang-Undang Pemilwa, atau yang paling pelik advokasi terhadap isu UKT?  Saya selaku mahasiswa FIS sangat mengapresiasi semua jerih payah BEM FIS UNY 2016 yang kebanyakan sebagai fasilitator aksi. Tapi bukan dalam ranah kajian dan arah gerakan.

Nyinyiran mengenai pergerakan mahasiswa yang gemar melakukan aksi turun jalan pun bertebaran. Salah satunya, “Pergerakan tidak harus turun aksi atau jalan”, “Jangan menyempitkan makna pergerakan, dong”.  Atau yang pernah di muat dalam buletin Lentera edisi September 2016 milik BEM yang berjudul “Pergerakan Tak Selalu Turun Ke Jalan”. Kata-kata tersebut selalu bertebaran, namun jika kalian tidak turun aksi apa yang kalian lakukan? Jika kalian lebih suka melakukan kajian, kajian apa yang kalian telurkan? Pertanyaan sederhana dan harusnya mudah untuk dijawab jika kurang sependapat dengan turun aksi. Misal, dalam kasus UKT, kajian apa yang telah berbuah dari para mahasiswa pilihan yang mendapat dana mahasiswa belasan juta tersebut. Satu-satunya kajian mengenai UKT berasal dari kalangan mahasiswa biasa-biasa saja. Lalu apa maksud “pergerakan” menurut kalian?

“Restorasi” kata yang terkesan ambisius. Kata restorasi yang berarti pengembalian atau pemulihan keadaan semula bukan hanya isapan jempol semata. Dan jika hal ini yang di gadang-gadang BEM FIS UNY pada periode 2017, perlu adanya arah gerakan yang jelas. Jangan sampai berlayar tanpa arah, meskipun memiliki nahkoda. Titik fokus yang harus diperhatikan ialah memaksimalkan seluruh pikiran dan sikap tegas untuk terus menghimpun setiap kekuatan sebagai gudang sebuah gagasan.  Pekerjaan besar bagi seluruh mahasiswa FIS yang mengemban stigma sebagai “kampus pergerakan”. Takutnya beberapa aksi yang dilakukan mahasiswa FIS hanya sebagai pantes-pantesan mahasiswa kampus merah. Akumulasi (mitos) mengenai kampus pergerakan akan menjadi momok yang melenakan dan menina-bobokan mahasiswa dalam zona nyaman. Lagi lagi tugas yang (harusnya) diemban BEM FIS UNY sebagai representatif mahasiswa di areal Gang Guru, Karang Malang menggali sebuah arah gerakan yang jelas dan tegas. Menjadikan kampus pergerakan (katanya) kawah candradimuka bagi mahasiswanya.

Idiom “kampus pergerakan” benar-benar menjadi komoditi yang paling menjual. Masih terngiang suara Master of Ceremony (MC)  Ospek, “Selamat datang mahasiswa baru di kampus pergerakan” ditambah lagi kakak-kakak senior yang selalu bilang “kampus pergerakan” di setiap pengenalan kampus merah. Kampus pergerakan hanya sebagai sebuah brand jualan yang paling laris di pasaran FIS saat Ospek. Apalagi ditambah dengan jargon mahasiswa sebagai Agent of Change semakin menambah gegap gempita mahasiswa baru. Fenomena yang seperti ini seakan menjadi hal yang lumrah untuk melabeli kakak-kakak seniornya di FIS sebagai aktivis yang selalu mengawal isu-isu sosial internal ataupun eksternal kampus. Atau jargon-jargon tersebut hanya berkutat pada kata penyemangat para mahasiswa baru untuk tetap antusias dalam menjalankan kegiatan Ospek. Namun hal ini hanya berlaku saat Ospek selama lima hari, untuk hari-hari berikutnya, luweh. Ini salah siapa? Tak perlu memperdebatkan ini salah siapa, akan terlihat mendeskriditkan suatu kelompok jika kita saling tuduh. Inilah PR yang harus segera diselesaikan, ibarat rantai setan hal ini harus segera diputus. Bukan hanya BEM FIS UNY yang menjadi sorotan melainkan semua kalangan yang mengatasnamakan dirinya sebagai mahasiswa “Kampus Pergerakan”. Menentukan arah gerakan yang pasti dengan bermacam diskusi, kajian, dan aksi nyata. Inilah saat yang tepat guna menentukan arah gerakan. Bukan hanya saat Pemilwa atau Ospek saja idiom kampus pergerakan memekikan telinga, namun di segala situasi. Karena tidak mungkin kita selaku mahasiswa FIS mewariskan kata-kata tanpa makna.

Harus segera menentukan sikap mengenai sikap gerakan mahasiswa FIS. Jangan sampai mahasiswa baru kebingungan apa yang dimaksud dengan kampus pergerakan. “Kampus pergerakan itu apa, Kak?”, “Memang apa yang membedakan kampus pegerakan dengan fakultas lain, Kak?” akan terasa membingungkan. Bukan hanya mereka yang sedang bercokol di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa, namun untuk seluruh mahasiswa “Kampus Pergerakan”. Masih pantaskah kita menamai Fakultas kita dengan “Kampus Pergerakan?”. Untuk para teman-teman mahasiswa baru 2017, “Selamat datang di kampus yang biasa-biasa saja!”

Deby Hermawan, mahasiswa biasa-biasa saja.

*Pernah dikirim ke redaksi buletin Lentera BEM FIS. Tetapi gagal terbit tanpa kejelasan alasan.

Bijak Mengonsumsi Televisi

Manusia selalu membutuhkan informasi dan informasi tidak dapat bergerak tanpa adanya komunikasi. Jadi, manusia tidak akan pernah bisa terlepas dari sebuah aktivitas bernama ‘komunikasi’. Sementara itu, komunikasi selalu membutuhkan media sebagai pihak yang aktif. Media akan berperan sebagai penggerak informasi. Sehingga keberadaannya sangat penting karena media membuat informasi tidak hanya berdiam diri.

Dalam ranah komunikasi massa, media memiliki peran dalam membentuk pendapat khalayak. Menurut Teori Jarum Hipodermik, media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Ini mengindikasikan bahwa apa yang disampaikan media akan selalu  diterima khalayak dan mampu menanamkan pengaruh  kepada mereka.

Sinetron_Riri
Naga Terbang Ind*siar. Foto dari blogspot.

Seiring perkembangan zaman, media pun terus berkembang. Akibatnya, akses informasi semakin mudah didapatkan. Persepsi-persepsi baru juga tidak sulit ditemukan.  Namun, perkembangan media tidak selalu diiringi perkembangan kualitas konten media,  yang ada justru penurunan kualitas. Kenyataannya memang demikian. Banyak media¾katakanlah televisi¾yang menyajikan tayangan tidak berkualitas, tayangan yang tidak perlu. Kesannya hanya melakukan fungsi media sebagai hiburan tanpa menyisipkan fungsi edukasi.

Di beberapa media, acara musik menjelma menjadi acara keluarga yang mengumbar dan mempopulerkan keluarga artis tertentu. Atau menjadi ajang lawakan garing, tak lucu, dan tak bermutu. Informasi mengenai musik yang awalnya menjadi inti acara dikesampingkan entah kemana. Akibatnya, yang diterima khalayak bukanlah informasi musik secara intens, melainkan informasi mengenai artis yang ‘dipopulerkan’ di acara tersebut. Ketika artis tersebut semakin populer, manfaat nyata apa yang didapatkan penonton? Tentu tidak ada.

Kemudian jika bergeser sedikit ke acara hiburan lain¾misalnya sinetron¾kita pun akan mendapatkan hal serupa. Tak sedikit¾bahkan hampir semua sinetron di Indonesia¾yang kualitasnya  standar-standar saja, bahkan bisa dikatakan tidak berkualitas.  Tema yang diusung pun hanya melingkar di ruang yang sama, misalnya perebutan harta warisan, anak yang tertukar, perebutan pacar,  kesenjangan si kaya dan si miskin dalam hubungan percintaan, galau-galauan anak SMA, dan tema rendahan lainnya. Sinetron tersebut lalu dibalut dengan penuh drama super lebay. Biasanya selalu ada tangisan di bawah hujan yang turun  meski hari tampak cerah, atau diakhiri dengan kisah si jahat yang tertabrak mobil lalu sadar dan bertaubat. Hal-hal demikian seolah sudah menjadi ciri khas.

Tidak hanya media yang mengalami penurunan kualitas konten, tetapi ada juga media yang mengalami penurunan kemampuan  membuat konten. Hasilnya? Banyak drama luar negeri yang menyusup ke dalam media nasional. Padahal jika mau berpikir kreatif lebih keras lagi, saya yakin ada banyak hal yang bisa diangkat dari berbagai belahan negeri ini untuk membuat tayangan inovatif yang berkualitas.

Barangkali mengejar rating tinggi merupakan salah satu faktor yang menyebabkan media membuat konten yang ala kadarnya tetapi mampu menarik perhatian khalayak. Miris. Ketika televisi sebagai media yang memiliki kekuatan sangat perkasa dalam mempengaruhi pendapat khalayak tidak dimanfaatkan dengan baik. Padahal menurut Teori Kultivasi, televisi  menjadi media atau alat utama di mana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi yang terbangun di benak pemirsa tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Apa yang ditayangkan televisi adalah apa yang akan dianggap masyarakat sebagai hal yang ada dalam realitas.

Namun, ketika televisi terlanjur memberi tayangan kualitas rendahan, tidak ada pilihan lain bagi konsumen selain bersikap lebih bijak. Paling tidak dalam menonton televisi lebih menggunakan akal sehat dan lebih selektif. Singkirkan tayangan yang tidak perlu. Apalagi jika menonton televisi bersama anak-anak. Boleh saja menikmati tayangan hiburan, tetapi setidaknya pilih hiburan yang tidak membodohi. Tidak perlu lah menonton sinetron yang hanya mengajari pacaran ala ABG labil. Tidak hanya itu, yang tidak kalah penting adalah memilih tayangan sesuai dengan usia penonton. Sekarang ini banyak anak-anak yang mengalami pendewasaan lebih dini akibat menonton tayangan televisi¾yang seharusnya belum dikonsumsi usia mereka.

Jika masyarakat lebih selektif dalam memilih tayangan televisi, maka akan ada harapan perbaikan kualitas konten media yang ditawarkan. Setidaknya jika acara tidak berkualitas tidak lagi dilirik, maka lama-kelamaan ia akan menghilang. Sebab ketika rating tinggi tidak didapatkan, akan ada evaluasi dari pihak yang memproduksi konten tersebut. Ini sama saja melakukan penyelamatan terhadap kualitas konten media. Selain itu juga menyelamatkan diri sebagai konsumen media dari berbagai tayangan yang tidak edukatif.

Riri Rahayuningsih, lagi kepincut anak FIK.